Selasa, 17 Februari 2015





Biografi Utsman bin Affan – Khulafaur Rasyidin ke-3


Biografi-Utsman-bin-Affan Biografi Utsman bin Affan - Khulafaur Rasyidin ke-3
Add caption

Biografi Utsman bin Affan menjadi salah satu artikel yang harus anda baca.Ia merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dan menjadi satu dari empat Khulafaur Rasyidin. Khalifah ketiga ini berperan besar dalam membukukan Alquran qalam Allah. Ia memiliki kekayaan yang berlimpah namun terus bersifat dermawan kepada sesama. Penasaran bagaimana perjuangan belia dalam menegakkan Islam. Yuk langsung aja baca terus artikel berikut ini.

Biografi Utsman Bin Affan

Ia lahir pada 574 M di Mekkah atau enam tahun setelah tahun Gajah. Ia berasal dari keturunan silsilah Bani Umayyah. Sang Ibu bernama Arwa binti Kuriz bin Rabiah, Ayahnya ‘Affan adalah seorang saudagar yang kaya raya dari suku Quraisy-Umayyah. Nasab Usman melalui garis ibunya bertemu dengan nasab nabi Muhammad SAW pada Abdi Manaf ibn Qushayi. Sejak kecil Utsman telah mendapat pendidikan membaca dan menulis dari keluarganya. Ia dilahirkan dan tumbuh dewasa ditengah lingkungan kaum Quraisy, suku yang paling terhormat di Makkah.
Dalam perjalanan hidupnya, Utsman tumbuh menjadi saudagar kaya yang dermawan dan rendah hati. Meskipun kaya, hidupnya selalu diliputi kesederhanaan. Rasulullah SAW menggambarkan Utsman sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati diantara kaum muslimin. Ia memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik bahkan dari sebelum dirinya masuk Islam.
Utsman termasuk orang yang pertama kali menjawab panggilan nabi saat diserukan untuk masuk Islam di kalangan Mekkah. Abu Bakr Ash-Shidiq yang juga saudagar terlebih dahulu memberi informasi tentang Agama Islam kepadanya. Namun masuknya Utsman ke Agama Islam mendapat sambutan dingin dari kabilahnya. Ia pun memutuskan untuk berhijrah ke Abbesiania karena tidak bisa menyaksikan kabilahnya Bani Umayyah melakukan penyiksaan terhadap muslimin yang lemah.
Biografi Utsman Bin Affan kali ini juga membahas keistimewaannya dimata Nabi SAW. Beliau menikahkan Utsman bin Affan dengan dua orang putrinya secara berturut-turut. Putri pertama yang dinikahkan dengan Utsman Adalah Ruqayah, kemudian setelah meninggal Rasulullah menikahkan Utsman dengan Ummu Kultsum. Namun usia pernikahan Usman dengan Ummu kulsum pun tidak berlangsung lama, karena pada tahun kesembilan hijriyah Allah memanggil Ummu kulsum keharibaan-Nya. Oleh karena itu Utsman bin Affan memiliki gelar ‘Dzu-Nur’aini’ atau yang memiliki dua cahaya.
Bukan saja salah seorang sahabat terdekat Nabi, juga salah seorang penulis wahyu dan sekretarisnya. Ia berjuang bersama Rosulullah hijrah kemana saja nabi hijrah atau disuruh hijrah oleh nabi, dan berperang pada setiap peperangan kecuali perang Badar yang itupun atas perintah nabi untuk menunggui istrinya, Roqayyah yang sedang sakit keras. Sebagai seorang hartawan, Usman menghabiskan hartanya demi penyebaran dan kehormatan agama islam serta kaum muslim.
Selain menyumbang biaya-biaya perang dengan angka yang sangat besar, juga pembangunan kembali Masjid al-Haram (Mekah) dan Masjid al-Nabawi (Madinah). Usman juga berperan aktif sebagai perantara dalam perjanjian Hudaybiyah sebagai utusan nabi.
Pada peristiwa perang Tabuk, Utsman bin Affan menyumbangkan 1000 ekor unta, 70 ekor kuda dan 1000 dirham. Sumbangan Utsman tersebut senilai sepertiga dari biaya keseluruhan perang Tabuk. Beliau juga menunjukan kedermawanan dengan membeli sebuah mata air yang dimiliki oleh seorang Yahudi seharga 35,000 dirham untuk kebutuhan muslimin. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakr, beliau menyumbangkan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu rakyat miskin di musim kemarau.
Utsman bin Affan juga terkenal dengan sifat pemalunya. Berkaitan dengan hal ini, Aisyah ra pernah mengungkapkan bahwa suatu hari Abu Bakr mendatangi Rasulullah yang sedang berbaring dan gamisnya tersingkap sehingga terlihat betisnya. Setelah Abu Bakr keluar, Umar bin Khattab masuk menemui nabi dalam keadaan demikian. Ketika giliran Utsman bin Affan mau masuk, Rasulullah saw merapihkan gamisnya. Melihat keadaan demikian Aisyah bertanya kepada Rasulullah perihal persiapan beliau menyambut Utsman bin Affan. Rasulullah saw menjawab, ‘Apakah saya tidak malu kepada orang yang malaikat juga malu kepadanya’
Seperti janji yang dikatakan khalifah Umar dalam pidato inagurasinya sebagai khalifah, dia telah membentuk majlis khusus untuk pemilihan khalifah berikutnya. Majelis atau panitia pemilihan itu terdiri dari enam sahabat dari berbagai kelompok social yang ada. Mereka adalah Ali bin Abi thalib, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair, Sa’ad bin Abi waqas, dan Thalhah. Namun pada saat pemilihan berlangsung, Thalhah tidak sempat hadir, sehingga lima dari enam anggota panitia yang melakukan pemilihan.
Menjelang wafatnya Umar bin khattab, ia membuat tim formatur untuk memilih calon khalifah. Akhirnya Usman ibn ‘Affan terpilih menjadi khalifah III dari al-Khulafa al-Rasyidin pengganti Umar. Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Abd al-Rahman ibn ‘Auf sebagai ketua tim pelaksanaan pemilihan khalifah, pasca wafatnya Umar ibn Khattab, berkata kepada Usman ibn ‘Affan disuatu tempat sebagai berikut:
Jika saya tidak memba’yarmu (usman) maka siapa yang kau usulkan? Ia (usman) berkata “Ali”. Kemudian ia (Abd al-Rahman bin Auf) berkata kepada Ali, jika saya tidak memba’iatmu, maka siapa yang kau usulkan untuk dibai’at? Ali berkata, “Usman”. Kemudian Abd al-Rahman bin Auf bermusyawarah dengan tokoh-tokoh lainnya, ternyata mayoritas memilih Usman sebagai khalifah.
Memperhatikan percakapan dari dua sahabat tersebut, maka tampaklah bahwa sesungguhnya Usman dan Ali tidak ambisius menjadi khalifah, justru keduanya saling mempersilahkan untuk menentukan khalifah secara musyawarah.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf berkata kepada Ali sambil memegang tangannya,”engkau punya hubungan kerabat dengan Rosulullah dan sebagaimana diketahui, engkau lebih dulu masuk islam. Demi Allah jika aku memilihmu, engkau mesti berbuat adil. Dan jika aku memilih Usman, engkau mesti patuh dan taat.” Kemudian Ibn Auf menyampaikan hal yang sama kepada lima sahabat lainnya. Setelah itu ia berkata kepada Usman, “aku membaiatmu atas nama sunnah Allah dan Rosul-Nya, juga dua khalifah sesudahnya.” Usman berkata, ”baiklah.”.
Abdurrahman langsung membaiatnya saat itu juga diikuti oleh para sahabat dan kaum muslim. Orang kedua yang membaiat Usman adalah Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian kaum muslim bersepakat menerima Usman sebagai khalifah setelah Umar bin Khattab. Haris bin Mudhrab berkata,”aku berjanji pada masa Umar, kaum muslim itu tidak merasa ragu bahwa khalifah berikutnya adalah Usman.
Pembukuan Al-qur’an
Setelah kaum muslim bersepakat membaiat Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga setelah Abu Bakar al-shiddiq r.a. dan Umar bin Khattab r.a. ketika ditinggalkan oleh Umar bin Khattab, umat islam berada dalam keadaan yang makmur dan bahagia. Kawasan dunia muslimpun telah bertambah luas. Khalifah Umar berhasil menciptakan stabilitas sosial politik didalam negeri sehingga ia dapat membagi perhatiannya untuk memperluas wilayah islam. Dan ketika Usman menjabat sebagai khalifah, ia meneruskan sebagian besar garis politik Umar. Ia melakukan berbagai Ekspedisi untuk mendapatkan wilayah-wilayah baru. Perluasan itu memunculkan situasi sosial yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Banyak hal baru yang harus diantisipasi oleh penguasa muslim untuk menyatukan umat, yang terdiri atas berbagai suku dan bangsa. Salah satu hal yang muncul akibat perluasan wilayah islam adalah munculnya berbagai perbedaan qira’ah Al-qur’an. Itu karena setiap daerah memiliki dialeg bahasa tersendiri, dan setiap kelompok umat islam mengikuti qiroah para sahabat terkemuka. Sebagaimana diketahui ada beberapa orang sahabat yang menjadi kiblat atau rujukan bagi kaum muslim mengenai bacaan Al-qur’an.
Dimasa Rosulullah dan dua khalifah sebelumnya keadaan itu tidak menimbulkan permasalahan karena para sahabat bias mencari rujukan yang pasti mengenai bacaan yang benar dan diterima. Namun seiring perubahan zaman dan perbedaan latar belakang sosial budaya mayarakat islam, persoalan itu semakin meruncing dan berujung pada persoalan aqidah. Sebagian kelompok umat menyalahkan kelompok lain karena perbedaan gaya dan qiraah Al-qur’an. Bahkan mereka saling mendustkan, menyalahkan bahkan mengkafirkan.
Kenyataan itu mendorong usman untuk berijtihad melakukan sesuatu yang benar-benar baru. Pada akhir 24 H awal 25 H, Usman mengumpulkan para sahabat lalu empat orang diantara mereka menyusun mushaf yang akan menjadi rujukan umat islam. Keempat kodifikasi panitia itu adalah para penghafal al-Qur’an yang telah dikenal baik yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said ibn al-Ash dan Abdurrahman ibn al-Harist ibn Hisyam. Panitia kodifikasi itu bekerja sangat cermat dan hati-hati, mereka menghimpun berbagai qiraah yang ada ditengah umat kemudian memilih salah satunya yang dianggap paling dipercaya.
Mereka langsung menuliskan dalam satu mushaf lafal atau bacaan yang disepakati bersama. Yang tersusun rapi dan sistematis. Panitia kodifikasi Al-qur’an bekerja dengan cermat, teliti, dan hati-hati sehingga menghasilkan sebuah mushaf. Sebetulnya karya itu bukan murni dilakukan khalifah Usman, karena gagasan itu telah dirintis sejak kepemimpinan Abu Bakar dan diteruskan khalifah Umar. Mushaf usmani itupun tuntas disusun dan mushaf-mushaf lain yang berbeda dari mushaf utama itu diperintahkan untuk dibakar.
Masa Pemerintahan
Para pencatat sejarah membagi masa pemerintahan Utsman menjadi dua periode, yaitu pada periode kemajuan dan periode kemunduran sampai ia terbunuh. Periode I, pemerintahan Usman membawa kemajuan luar biasa berkat jasa panglima yang ahli dan berkualitas dimana peta islam sangat luas dan bendera islam berkibar dari perbatasan Aljazair (Barqah Tripoli, Syprus di front al-maghrib bahkan ada sumber menyatakan sampai ke Tunisia). Di al-maghrib, diutara sampai ke Aleppo dan sebagian Asia kecil, di Timur laut sampai ke Ma wara al-Nahar –Transoxiana, dan di Timur seluruh Persia bahkan sampai diperbatasan Balucistan (sekarang wilayah Pakistan), serta Kabul dan Ghazni. Selain itu ia juga berhasil membetuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh dan menghalau serangan-serangan di laut tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium dengan kemenangan pertama kali dilaut dalam sejarah islam.
Pada periode ke-II, kekuasaannya identik dengan kemunduran dengan kemunduran dengan huruhara dan kekacauan yang luar biasa sampai ia wafat. Sebagian ahli sejarah menilai bahwa Usman melakukan nepotisme. Ia mengangkat sanak saudaranya dalam jabatan-jabatan strategis yang paling besar dan paling banyak menyebabkan suku-suku dan kabila-kabila lainnya merasakan pahitnya tindakan Usman tersebut.
Para pejabat dan para panglima era Umar hampir semuanya dipecat oleh Usman, kemudian mengangkat dari keluarga sendiri yang tidak mampu dan tidak cakap sebagai pengganti mereka. Adapun para pejabat Usman yang berasal dari famili dan keluarga dekat, diantaranya Muawiyah bin Abi sofyan, Gubernur Syam, satu suku dan keluarga dekat Usman. Oleh karena itu, Usman diklaim bahwa ia telah melakukan KKN.
Namun pada kenyataannya bukan seperti apa yang telah dituduhkan kepada Usman, dengan berbagai alasan yang dapat dicatat atau digaris bawahi bahwa usman tidak melakukan nepotisme, diantaranya :
a. Para gubernur yang diangkat oleh Usman tidak semuanya family usman. Ada yang saudara atau anak asuh, ada yang saudara susuan, ada pula saudara tiri
b. Ia mengangkat familinya tentunya atas pertimbangan dari beberapa faktor yang melatarbelakanginya.
c. Meskipun sebagian pejabat diangkat dari kalangan family, namun mereka semuanya punya reputasi yang tinggi dan memiliki kemampuan. Hanya saja faktor ekonomi yang menyatukan untuk memprotes guna memperoleh hak mereka. Situasi ini dimanfaatkan oleh orang oportunis menyebarkan isu sebagai modal bahwa usman telah memberikan jabatan-jabatan penting dan strategis kepada famili, yang akhirnya menyebabkan khalifah usman terbunuh.
Melihat fakta-fakta tersebut diatas, jelas bahwa nepotisme Usman tidak terbukti. Karena pengangkatan saudara-saudaranya itu berangkat dari profesionalisme kinerja mereka dilapangan. Akan tetapi memang pada masa akhir kepemimpinan Usman para gubernur yang diangkat tersebut bertindak sewenang-wenang terutama dalam bidang ekonomi. Mereka diluar kontrol usman yang memang sudah berusia lanjut sehingga rakyat menganggap hal tersebut sebagai kegagalan usman, sampai pada akhirnya Usman mati terbunuh.
Kematian tokoh islam satu ini sebelumnya pernah disampaikan oleh Rasulullah. Ketika itu, Rasulullah bersama dengan Abu Bakr, Umar, dan Utsman di atas Uhud, tiba-tiba Uhud bergoncang. Rasul pun bersabda:
“Diamlah wahai Uhud, yang berada di atasmu adalah seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”
Tepat pada Jum’at 12 Dzulhijjah, 35 H, Beliau diberi 2 ulimatum oleh pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Namun Amirul Mukminin, Utsman bin ‘Affan tetap di atas wasiat Rasul untuk tidak melepaskan kekhilafahan, baju yang telah Allah pakaikan untuknya.
Ia pun terbunuh dalam keadaan shahid. Peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak selama 40 hari.
Nah sejarawan, begitu besar pengorbanan Utsman hingga darah penghabisan untuk memperjuangkan agama Allah. Semoga informasi ini menambah pengetahuan dan wawasan anda. Baca juga artikel Biografi Mochammad Idjon Djanbi untuk menambah pengetahuan anda. Terimakasih sudah membaca.

   sumber; http://www.tintabiografi.com/biografi-utsman-bin-affan-khulafaur-rasyidin-ke-3.bio

Tidak ada komentar:

Posting Komentar