Rabu, 18 Februari 2015


Biografi Abu Bakar As-Siddiq Kuhlafaur Rasyidin Pertama



 Pernahkah teman-teman sekalian mendengar nama Abdul Ka’bah bin Utsman? Yah , nama itu merupakan nama salah seorang sahabat terdekat Rasulullah Muhamad SAW, dialah Abu Bakar As-Siddiq. Sewaktu Lahir nama Abu Bakar As-Siddiq adalah Abdul Ka’bah akan tetapi ketika ia memeluk islam Rasulullah SAW mengganti namanya menjadi Abdullah bin Utsman.
Abu Bakar As-Siddiq lahir di Kota Mekkah sekitar tahun 572 M, beliau merupakan keturunan Bani Tamim (At Tamimi) salah satu bani di suku Quraisy. Banyak sejarahwan yang mencatat bahwa Abu Bakar As-Siddiq merupakan salah satu putra terbaik bangsa Arab pada waktu itu, beliau adalah salah satu pedagang yang sukses, beliau juga pernah diangkat menjadi hakim, beliau termasuk orang yang sangat terpelajar, dan dipercaya memiliki kemampuan menafsirkan mimpi.
Gelar Abu Bakar As-Siddiq disandang oleh Abdullah bin Utsman setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada waktu itu banyak orang yang meragukan cerita Rasulullah SAW tentang kisahnya yang diperjalankan dari Masjidil Haram di Kota Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina yang kemudian di mi’rajkan bertemu Allah secara langsung di Sidratul Muntaha yang terjadi hanya dalam waktu semalam. Mendengar cerita tersebut tanpa rasa ragu sedikitpun Abu Bakar membenarkan dan mempercayai apa yang diceritakan oleh Rasulullah tersebut. Itulah mengapa Abdullah bin Utsman diberi gelar Abu Bakar As-Siddiq karena betapa  besarnya rasa percaya Abu Bakar kepada Rasulullah.
Perkenalan Rasulullah Muhammad SAW dengan Abu Bakar As-Siddiq dimulai sewaktu Rasulullah SAW menikah dengan Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid r.a. Pada waktu itu Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq bertetangga dan sama-sama berprofesi sebagai pedagang ditambah lagi kedua tokoh islam ini memiliki usia yang hampir sama.
Sebagaimana yang banyak dikisahkan dalam buku-buku sejarah islam bahwa Abu Bakar As-Siddiq adalah salah satu orang yang paling awal memeluk islam. Setelah menjadi muslim, beliau juga turut mendakwahkan islam kepada beberapa sahabat diantaranya kepada Utsman bin Affan, Thalha bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan beberapa tokoh-tokoh penting didalam islam lainnya.
Tidak hanya berhasil mengislamkan beberapa sahabat, Abu Bakar juga berhasil mengajak istrinya Ummu Ruman menjadi seorang muslimah, sedangkan istri yang lain yang bernama Qutaylah binti Abdul Uzza tidak bersedia menerima islam sebagai sebuah agama sehingga membuat Abu Bakar menceraikannya. Dari beberapa anak beliau, hanya satu orang yang tidak memeluk islam yaitu Abdur Rahman bin Abu Bakar yang membuat beliau memutuskan berpisah dengan salah satu putranya tersebut.
Sama halnya dengan yang dialami oleh para kaum muslimin yang memeluk islam pada periode awal, Abu Bakar juga mendapatkan beberapa celaan dan teror dari para kaum musyrikin Mekkah yang masih memegang teguh agama peninggalan nenek moyang mereka. Namun penyiksaan terberat dialami para kaum muslimin yang menyandang status budak, melihat kenyataan tersebut Abu Bakar terdorong membebaskan beberapa budak yang memeluk agama islam dari  tuannya, salah satu diantaranya adalah Bilal bin Rabba.
Ketika peristiwa Hijrah Rasulullah ke Yastrib (Madinah), Abu Bakar menjadi satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah dalam perjalanan menuju ke Yastrib (Madinah). Ikatan Abu Bakar dengan Rasulullah semakin kuat setelah salah satu putri Abu Bakar yaitu Aisyah binti Abu Bakar menikah dengan Rasulullah, dengan demikian Abu Bakar As-Siddiq menjadi mertua dari orang termulia di dunia tersebut.
Sewaktu Rasulullah mengalami sakit parah menjelang kematiannya, Abu Bakar ditunjuk menjadi imam shalat. Hal tersebut juga sekaligus dianggap sebagai isyarat Rasulullah tentang sosok yang pantas menggantikannya setelah wafat yang berujung pada pengangkatan Abu Bakar menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Amirul Mukminin setelah Rasulullah menjadi pangkal perpecahan awal kaum muslimin. Pada saat itu ada beberapa kelompok yang tidak menerima penunjukan Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah, kelompok ini beranggapan bahwa sosok yang pantas menggantikan Rasulullah adalah Ali bin Abu Thalib yang merupakan menantu dan sekaligus sepupu Rasulullah SAW. Pertentangan inilah yang menjadi  cikal bakal lahirnya  kelompok Sunni dan Syiah. Terlepas dari penolakan tersebut, Ali bin Abu Thalib menyatakan kesetiaannya (berbay’ad) kepada pemerintahan Abu Bakar dan 2 khalifah setelahnya yakni Utsman bin Affan serta Umar bin Khattab.
Masalah lain juga muncul dari beberapa suku Arab dari  Hijaz dan Neged, sebagian dari  mereka menolak  sistem pemerintahan Abu Bakar, sebagian dari mereka juga mulai meninggalkan ajaran agama islam seperti mulai tidak membayar zakat bahkan ada beberapa dari mereka kembali memeluk kepercayaan lamanya menyembah berhala, karena beranggapan bahwa komitmen mereka hanya kepada Rasulullah Muhammad SAW, dan seiring dengan meninggalnya Rasulullah SAW maka komitmen mereka untuk memeluk  ajaran islam juga berakhir. Melihat kenyataan tersebut, khalifah menyatakan perang terhadap mereka, dan salah satu perang terbesar yang terjadi dalam menumpas  kebatilan pada waktu itu adalah perang Riddah.
masalah besar selanjutnya yang harus ditumpas oleh khalifah  Khulafaur Rasyidin pertama ini adalah memerangi para nabi palsu yang bermunculan diantaranya Sajjah binti  Al Harits bin Suwaid, Thulaihah Al-Asadi, dan Ibnu Habib Al Hanafi yang lebih dikenal dengan nama Muzailamah Al-Kadzab yang juga merupakan suami dari  Sajjah binti Al Harits.
Perjuangan Abu Bakar menumpas para nabi palsu  berjalan sukses, Muzailamah Al Kadzab terbunuh dalam perang Akraba yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, Muzailamah dibunuh oleh Al Wahsy yang merupakan mantan budak yang dimerdekakan oleh Hindun istri Abu Sufyan karena berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib yang merupakan paman Rasulullah. Setelah Al Wahsy bertobat,  ia mengakui kesalahannya dan menjadi salah satu pejuang islam yang taat, Al Wahsy pernah berujar “Dahulu aku membunuh orang yang paling dicintai Rasulullah yaitu Hamzah, dan kini aku telah membunuh orang yang paling dibenci oleh Rasulullah yaitu nabi palsu Muzailamah Al Kadzab”.
Pasca terbunuhnya Muzailamah Al Kadzab, Sajjah binti  Al Harits yang juga telah memproklamirkan diri sebagai nabi, melarikan diri  ke Iraq dan kemudian memeluk  islam disana. Sedangkan Thulaihah Al Asadi bertobat setelah wafatnya Abu Bakar dan menjadi salah satu serdadu islam dalam peristiwa penaklukan Persia.
Setelah peperangan hebat menumpas Muzailamah Al-Kadzab, pihak islam banyak kehilangan penghafal-penghafal Al-Qur’an yang syahid di medan perang. Menyadari kondisi tersebut, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengabadikan Al Qur’an dalam bentuk tulisan demi menjaga Al Qur’an dari kepunahan. Setelah melalui diskusi yang intens, permintaan Umar bin Khattab disetujui oleh Abu Bakar dan dimulailah penulisan Al Qur’an oleh tim yang diketuai oleh Zaid bin Zabid.
Setelah situasi pemerintahannya stabil dan berhasil menguasai Arab sepenuhnya, Khalifah Abu Bakar memerintahkan para jenderal islam untuk melakukan ekspidisi dan penaklukan kekaisaran Bizantium dan Kekaisaran Sasanid, Khalid bin Walid dengan mudahnya menaklukkan Iraq sementara ekspidisi yang dilakukan ke Syria juga berhasil dengan sukses.
Memasuki usia 63 tahun putra dari pasangan Utsman bin Amir dan Ummu Khair Salmah bint Shakhr ini menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebelumnya mengalami sakit. Abu Bakar dimakamkan di Madinah berdampingan dengan sahabat yang paling dicintainya yaitu Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Wafatnya Abu Bakar bertepatan dengan tanggal 8 Jumadil Awal 13 H/23 Agustus 634 M.

sumber; http://www.pondokislam.com/2014/06/tokoh-islam-abu-bakar-as-siddiq.html
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar