Rabu, 18 Februari 2015


Biografi Abu Bakar As-Siddiq Kuhlafaur Rasyidin Pertama



 Pernahkah teman-teman sekalian mendengar nama Abdul Ka’bah bin Utsman? Yah , nama itu merupakan nama salah seorang sahabat terdekat Rasulullah Muhamad SAW, dialah Abu Bakar As-Siddiq. Sewaktu Lahir nama Abu Bakar As-Siddiq adalah Abdul Ka’bah akan tetapi ketika ia memeluk islam Rasulullah SAW mengganti namanya menjadi Abdullah bin Utsman.
Abu Bakar As-Siddiq lahir di Kota Mekkah sekitar tahun 572 M, beliau merupakan keturunan Bani Tamim (At Tamimi) salah satu bani di suku Quraisy. Banyak sejarahwan yang mencatat bahwa Abu Bakar As-Siddiq merupakan salah satu putra terbaik bangsa Arab pada waktu itu, beliau adalah salah satu pedagang yang sukses, beliau juga pernah diangkat menjadi hakim, beliau termasuk orang yang sangat terpelajar, dan dipercaya memiliki kemampuan menafsirkan mimpi.
Gelar Abu Bakar As-Siddiq disandang oleh Abdullah bin Utsman setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada waktu itu banyak orang yang meragukan cerita Rasulullah SAW tentang kisahnya yang diperjalankan dari Masjidil Haram di Kota Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina yang kemudian di mi’rajkan bertemu Allah secara langsung di Sidratul Muntaha yang terjadi hanya dalam waktu semalam. Mendengar cerita tersebut tanpa rasa ragu sedikitpun Abu Bakar membenarkan dan mempercayai apa yang diceritakan oleh Rasulullah tersebut. Itulah mengapa Abdullah bin Utsman diberi gelar Abu Bakar As-Siddiq karena betapa  besarnya rasa percaya Abu Bakar kepada Rasulullah.
Perkenalan Rasulullah Muhammad SAW dengan Abu Bakar As-Siddiq dimulai sewaktu Rasulullah SAW menikah dengan Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid r.a. Pada waktu itu Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq bertetangga dan sama-sama berprofesi sebagai pedagang ditambah lagi kedua tokoh islam ini memiliki usia yang hampir sama.
Sebagaimana yang banyak dikisahkan dalam buku-buku sejarah islam bahwa Abu Bakar As-Siddiq adalah salah satu orang yang paling awal memeluk islam. Setelah menjadi muslim, beliau juga turut mendakwahkan islam kepada beberapa sahabat diantaranya kepada Utsman bin Affan, Thalha bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan beberapa tokoh-tokoh penting didalam islam lainnya.
Tidak hanya berhasil mengislamkan beberapa sahabat, Abu Bakar juga berhasil mengajak istrinya Ummu Ruman menjadi seorang muslimah, sedangkan istri yang lain yang bernama Qutaylah binti Abdul Uzza tidak bersedia menerima islam sebagai sebuah agama sehingga membuat Abu Bakar menceraikannya. Dari beberapa anak beliau, hanya satu orang yang tidak memeluk islam yaitu Abdur Rahman bin Abu Bakar yang membuat beliau memutuskan berpisah dengan salah satu putranya tersebut.
Sama halnya dengan yang dialami oleh para kaum muslimin yang memeluk islam pada periode awal, Abu Bakar juga mendapatkan beberapa celaan dan teror dari para kaum musyrikin Mekkah yang masih memegang teguh agama peninggalan nenek moyang mereka. Namun penyiksaan terberat dialami para kaum muslimin yang menyandang status budak, melihat kenyataan tersebut Abu Bakar terdorong membebaskan beberapa budak yang memeluk agama islam dari  tuannya, salah satu diantaranya adalah Bilal bin Rabba.
Ketika peristiwa Hijrah Rasulullah ke Yastrib (Madinah), Abu Bakar menjadi satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah dalam perjalanan menuju ke Yastrib (Madinah). Ikatan Abu Bakar dengan Rasulullah semakin kuat setelah salah satu putri Abu Bakar yaitu Aisyah binti Abu Bakar menikah dengan Rasulullah, dengan demikian Abu Bakar As-Siddiq menjadi mertua dari orang termulia di dunia tersebut.
Sewaktu Rasulullah mengalami sakit parah menjelang kematiannya, Abu Bakar ditunjuk menjadi imam shalat. Hal tersebut juga sekaligus dianggap sebagai isyarat Rasulullah tentang sosok yang pantas menggantikannya setelah wafat yang berujung pada pengangkatan Abu Bakar menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Amirul Mukminin setelah Rasulullah menjadi pangkal perpecahan awal kaum muslimin. Pada saat itu ada beberapa kelompok yang tidak menerima penunjukan Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah, kelompok ini beranggapan bahwa sosok yang pantas menggantikan Rasulullah adalah Ali bin Abu Thalib yang merupakan menantu dan sekaligus sepupu Rasulullah SAW. Pertentangan inilah yang menjadi  cikal bakal lahirnya  kelompok Sunni dan Syiah. Terlepas dari penolakan tersebut, Ali bin Abu Thalib menyatakan kesetiaannya (berbay’ad) kepada pemerintahan Abu Bakar dan 2 khalifah setelahnya yakni Utsman bin Affan serta Umar bin Khattab.
Masalah lain juga muncul dari beberapa suku Arab dari  Hijaz dan Neged, sebagian dari  mereka menolak  sistem pemerintahan Abu Bakar, sebagian dari mereka juga mulai meninggalkan ajaran agama islam seperti mulai tidak membayar zakat bahkan ada beberapa dari mereka kembali memeluk kepercayaan lamanya menyembah berhala, karena beranggapan bahwa komitmen mereka hanya kepada Rasulullah Muhammad SAW, dan seiring dengan meninggalnya Rasulullah SAW maka komitmen mereka untuk memeluk  ajaran islam juga berakhir. Melihat kenyataan tersebut, khalifah menyatakan perang terhadap mereka, dan salah satu perang terbesar yang terjadi dalam menumpas  kebatilan pada waktu itu adalah perang Riddah.
masalah besar selanjutnya yang harus ditumpas oleh khalifah  Khulafaur Rasyidin pertama ini adalah memerangi para nabi palsu yang bermunculan diantaranya Sajjah binti  Al Harits bin Suwaid, Thulaihah Al-Asadi, dan Ibnu Habib Al Hanafi yang lebih dikenal dengan nama Muzailamah Al-Kadzab yang juga merupakan suami dari  Sajjah binti Al Harits.
Perjuangan Abu Bakar menumpas para nabi palsu  berjalan sukses, Muzailamah Al Kadzab terbunuh dalam perang Akraba yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, Muzailamah dibunuh oleh Al Wahsy yang merupakan mantan budak yang dimerdekakan oleh Hindun istri Abu Sufyan karena berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib yang merupakan paman Rasulullah. Setelah Al Wahsy bertobat,  ia mengakui kesalahannya dan menjadi salah satu pejuang islam yang taat, Al Wahsy pernah berujar “Dahulu aku membunuh orang yang paling dicintai Rasulullah yaitu Hamzah, dan kini aku telah membunuh orang yang paling dibenci oleh Rasulullah yaitu nabi palsu Muzailamah Al Kadzab”.
Pasca terbunuhnya Muzailamah Al Kadzab, Sajjah binti  Al Harits yang juga telah memproklamirkan diri sebagai nabi, melarikan diri  ke Iraq dan kemudian memeluk  islam disana. Sedangkan Thulaihah Al Asadi bertobat setelah wafatnya Abu Bakar dan menjadi salah satu serdadu islam dalam peristiwa penaklukan Persia.
Setelah peperangan hebat menumpas Muzailamah Al-Kadzab, pihak islam banyak kehilangan penghafal-penghafal Al-Qur’an yang syahid di medan perang. Menyadari kondisi tersebut, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengabadikan Al Qur’an dalam bentuk tulisan demi menjaga Al Qur’an dari kepunahan. Setelah melalui diskusi yang intens, permintaan Umar bin Khattab disetujui oleh Abu Bakar dan dimulailah penulisan Al Qur’an oleh tim yang diketuai oleh Zaid bin Zabid.
Setelah situasi pemerintahannya stabil dan berhasil menguasai Arab sepenuhnya, Khalifah Abu Bakar memerintahkan para jenderal islam untuk melakukan ekspidisi dan penaklukan kekaisaran Bizantium dan Kekaisaran Sasanid, Khalid bin Walid dengan mudahnya menaklukkan Iraq sementara ekspidisi yang dilakukan ke Syria juga berhasil dengan sukses.
Memasuki usia 63 tahun putra dari pasangan Utsman bin Amir dan Ummu Khair Salmah bint Shakhr ini menghembuskan nafas terakhirnya setelah sebelumnya mengalami sakit. Abu Bakar dimakamkan di Madinah berdampingan dengan sahabat yang paling dicintainya yaitu Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Wafatnya Abu Bakar bertepatan dengan tanggal 8 Jumadil Awal 13 H/23 Agustus 634 M.

sumber; http://www.pondokislam.com/2014/06/tokoh-islam-abu-bakar-as-siddiq.html
  

Selasa, 17 Februari 2015

Biografi Umar bin Al-Khattab - Khalifah Kedua Islam

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah yang sangat terkenal, perjalanan hidupnya adalah teladan yang diikuti, dan kepemimpinannya adalah sesuatu yang diimpikan. Banyak orang saat ini memimpikan, kiranya Umar hidup di zaman ini dan memipin umat yang tengah kehilangan jati diri.

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab (581 - November 644) (bahasa Arab:عمر ابن الخطاب) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad S.A.W. yang juga adalah khalifah kedua Islam (634-644). Umar juga merupakan satu di antara empat orang Khalifah yang digolongkan sebagai Khalifah yang diberi petunjuk (Khulafaur Rasyidin).

Biografi

Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim, dari marga Bani Makhzum. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad S.A.W. yaitu Al-Faruk yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.

Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah, sebagaimana tradisi yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah saat itu, Umar juga mengubur putrinya hidup-hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang masih barbar. Setelah memeluk Islam di bawah Nabi Muhammad S.A.W., Umar menyesali perbuatannya dan menyadari kebodohannya saat itu sebagaimana diriwayatkan dalam satu hadits "Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".

Umar juga dikenal sebagai seorang pem!num berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam (Jahiliyyah), Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alk0h0l sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas.

Memeluk Islam

Ketika Nabi Muhammad S.A.W. menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat antipati terhadapnya, beberapa catatan mengatakan bahwa kaum Muslim saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan Umar yang memang sudah mempunyai reputasi yang sangat baik sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh pada setiap peperangan yang ia lalui. Umar juga dicatat sebagai orang yang paling banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut Nabi Muhammad S.A.W.

Pada puncak kebenciannya terhadap ajaran Nabi Muhammad S.A.W., Umar memutuskan untuk mencoba membunuh Nabi Muhammad S.A.W., namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut Nabi Muhammad S.A.W. bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. yang ingin dibunuhnya saat itu. Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya, diriwayatkan bahwa Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an surat Thoha ayat 1-8, ia semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya.

Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat, diriwayatkan Umar menjadi terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah kejadian itu Umar menyatakan memeluk Islam, tentu saja hal ini membuat hampir seisi Mekkah terkejut karena seseorang yang terkenal paling keras menentang dan paling kejam dalam menyiksa para pengikut Nabi Muhammad S.A.W. kemudian memeluk ajaran yang sangat dibencinya tersebut, akibatnya Umar dikucilkan dari pergaulan Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.

Kehidupan di Madinah

Pada tahun 622 M, Umar ikut bersama Nabi Muhammad S.A.W. dan pemeluk Islam lain berhijrah (migrasi) (ke Yatsrib(sekarang Madinah) . Ia juga terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Pada tahun 625, putrinya (Hafsah) menikah dengan Nabi Nabi Muhammad S.A.W. Ia dianggap sebagai seorang yang paling disegani oleh kaum Muslim pada masa itu karena selain reputasinya yang memang terkenal sejak masa pra-Islam, juga karena ia dikenal sebagai orang terdepan yang selalu membela Nabi Muhammad S.A.W. dan ajaran Islam pada setiap kesempatan yang ada bahkan ia tanpa ragu menentang kawan-kawan lamanya yang dulu bersama mereka ia ikut menyiksa para pengikutnya Nabi Muhammad S.A.W.

Wafatnya Nabi Muhammad

Pada saat kabar wafatnya Nabi Muhammad S.A.W. pada 8 Juni 632 M (12 Rabiul Awal, 10 Hijriah) suasana sedih dan haru menyelimuti kota Madinah, sambil berdiri termenung Umar dikabarkan sebagai salah seorang yang paling terguncang atas peristiwa itu, ia menghambat siapapun memandikan atau menyiapkan jasadnya untuk pemakaman. Akibat syok yang ia terima, Umar berkata "Sesungguhnya beberapa orang munafik menganggap bahwa Nabi Muhammad saw. telah wafat. Sesungguhnya beliau tidak wafat, tetapi pergi ke hadapan Tuhannya, seperti dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya. Demi Allah dia benar-benar akan kembali. Barang siapa yang beranggapan bahwa beliau wafat, kaki dan tangannya akan kupotong."

Abu Bakar yang mendengar kabar bergegas kembali dari Madinah, ia menjumpai Umar sedang menahan Muslim yang lain dan lantas mengatakan

"Saudara-saudara! Barang siapa mau menyembah Nabi Muhammad S.A.W., Nabi Muhammad S.A.W. sudah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati!" . Abu Bakar ash-Shiddiq

Abu Bakar mengingatkan kepada para pemeluk Islam yang sedang terguncang, termasuk Umar saat itu, bahwa Nabi Muhammad S.A.W., seperti halnya mereka, adalah seorang manusia biasa, Abu Bakar kemudian membacakan ayat dari Al Qur'an dan mencoba untuk mengingatkan mereka kembali kepada ajaran yang diajarkan Nabi Muhammad S.A.W. yaitu kefanaan makhluk yang diciptakan. Setelah peristiwa itu Umar menyerah dan membiarkan persiapan penguburan dilaksanakan.

Masa kekhalifahan Abu Bakar

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasehat kepalanya. Setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Menjadi khalifah

Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.

Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.

Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia salat.

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah danMasjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.

Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.

Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.

Wafatnya

Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak yang fanatik pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Fairuz adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah wafat, jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.

Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan wasiat yaitu
  1. Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
  2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
  4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
  6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.
Ada beberapa gelintir orang yang tidak menyukai khalifah yang mulia ini, mereka mengatakan al-Faruq telah mencuri haknya Ali. Menurut mereka, Ali bin Abi Thalib lebih layak dan lebih pantas dibanding Umar untuk menjadi khalifah pengganti Nabi. Berangkat dari klaim tersebut, mulailah mereka melucuti kemuliaan dan keutamaan Umar. Mereka buat berita-berita palsu demi rusaknya citra amirul mukminin Umar bin Khattab. Mereka puja orang yang memusuhinya dan pembunuhnya pun digelari pahlawan bangsa.

  sumber; " http://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/04/biografi-umar-bin-al-khattab-khalifah-Kedua-Islam.html "
Sumber: (Wikipedia, Kisah Muslim)"




Biografi Utsman bin Affan – Khulafaur Rasyidin ke-3


Biografi-Utsman-bin-Affan Biografi Utsman bin Affan - Khulafaur Rasyidin ke-3
Add caption

Biografi Utsman bin Affan menjadi salah satu artikel yang harus anda baca.Ia merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dan menjadi satu dari empat Khulafaur Rasyidin. Khalifah ketiga ini berperan besar dalam membukukan Alquran qalam Allah. Ia memiliki kekayaan yang berlimpah namun terus bersifat dermawan kepada sesama. Penasaran bagaimana perjuangan belia dalam menegakkan Islam. Yuk langsung aja baca terus artikel berikut ini.

Biografi Utsman Bin Affan

Ia lahir pada 574 M di Mekkah atau enam tahun setelah tahun Gajah. Ia berasal dari keturunan silsilah Bani Umayyah. Sang Ibu bernama Arwa binti Kuriz bin Rabiah, Ayahnya ‘Affan adalah seorang saudagar yang kaya raya dari suku Quraisy-Umayyah. Nasab Usman melalui garis ibunya bertemu dengan nasab nabi Muhammad SAW pada Abdi Manaf ibn Qushayi. Sejak kecil Utsman telah mendapat pendidikan membaca dan menulis dari keluarganya. Ia dilahirkan dan tumbuh dewasa ditengah lingkungan kaum Quraisy, suku yang paling terhormat di Makkah.
Dalam perjalanan hidupnya, Utsman tumbuh menjadi saudagar kaya yang dermawan dan rendah hati. Meskipun kaya, hidupnya selalu diliputi kesederhanaan. Rasulullah SAW menggambarkan Utsman sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati diantara kaum muslimin. Ia memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik bahkan dari sebelum dirinya masuk Islam.
Utsman termasuk orang yang pertama kali menjawab panggilan nabi saat diserukan untuk masuk Islam di kalangan Mekkah. Abu Bakr Ash-Shidiq yang juga saudagar terlebih dahulu memberi informasi tentang Agama Islam kepadanya. Namun masuknya Utsman ke Agama Islam mendapat sambutan dingin dari kabilahnya. Ia pun memutuskan untuk berhijrah ke Abbesiania karena tidak bisa menyaksikan kabilahnya Bani Umayyah melakukan penyiksaan terhadap muslimin yang lemah.
Biografi Utsman Bin Affan kali ini juga membahas keistimewaannya dimata Nabi SAW. Beliau menikahkan Utsman bin Affan dengan dua orang putrinya secara berturut-turut. Putri pertama yang dinikahkan dengan Utsman Adalah Ruqayah, kemudian setelah meninggal Rasulullah menikahkan Utsman dengan Ummu Kultsum. Namun usia pernikahan Usman dengan Ummu kulsum pun tidak berlangsung lama, karena pada tahun kesembilan hijriyah Allah memanggil Ummu kulsum keharibaan-Nya. Oleh karena itu Utsman bin Affan memiliki gelar ‘Dzu-Nur’aini’ atau yang memiliki dua cahaya.
Bukan saja salah seorang sahabat terdekat Nabi, juga salah seorang penulis wahyu dan sekretarisnya. Ia berjuang bersama Rosulullah hijrah kemana saja nabi hijrah atau disuruh hijrah oleh nabi, dan berperang pada setiap peperangan kecuali perang Badar yang itupun atas perintah nabi untuk menunggui istrinya, Roqayyah yang sedang sakit keras. Sebagai seorang hartawan, Usman menghabiskan hartanya demi penyebaran dan kehormatan agama islam serta kaum muslim.
Selain menyumbang biaya-biaya perang dengan angka yang sangat besar, juga pembangunan kembali Masjid al-Haram (Mekah) dan Masjid al-Nabawi (Madinah). Usman juga berperan aktif sebagai perantara dalam perjanjian Hudaybiyah sebagai utusan nabi.
Pada peristiwa perang Tabuk, Utsman bin Affan menyumbangkan 1000 ekor unta, 70 ekor kuda dan 1000 dirham. Sumbangan Utsman tersebut senilai sepertiga dari biaya keseluruhan perang Tabuk. Beliau juga menunjukan kedermawanan dengan membeli sebuah mata air yang dimiliki oleh seorang Yahudi seharga 35,000 dirham untuk kebutuhan muslimin. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakr, beliau menyumbangkan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu rakyat miskin di musim kemarau.
Utsman bin Affan juga terkenal dengan sifat pemalunya. Berkaitan dengan hal ini, Aisyah ra pernah mengungkapkan bahwa suatu hari Abu Bakr mendatangi Rasulullah yang sedang berbaring dan gamisnya tersingkap sehingga terlihat betisnya. Setelah Abu Bakr keluar, Umar bin Khattab masuk menemui nabi dalam keadaan demikian. Ketika giliran Utsman bin Affan mau masuk, Rasulullah saw merapihkan gamisnya. Melihat keadaan demikian Aisyah bertanya kepada Rasulullah perihal persiapan beliau menyambut Utsman bin Affan. Rasulullah saw menjawab, ‘Apakah saya tidak malu kepada orang yang malaikat juga malu kepadanya’
Seperti janji yang dikatakan khalifah Umar dalam pidato inagurasinya sebagai khalifah, dia telah membentuk majlis khusus untuk pemilihan khalifah berikutnya. Majelis atau panitia pemilihan itu terdiri dari enam sahabat dari berbagai kelompok social yang ada. Mereka adalah Ali bin Abi thalib, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair, Sa’ad bin Abi waqas, dan Thalhah. Namun pada saat pemilihan berlangsung, Thalhah tidak sempat hadir, sehingga lima dari enam anggota panitia yang melakukan pemilihan.
Menjelang wafatnya Umar bin khattab, ia membuat tim formatur untuk memilih calon khalifah. Akhirnya Usman ibn ‘Affan terpilih menjadi khalifah III dari al-Khulafa al-Rasyidin pengganti Umar. Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Abd al-Rahman ibn ‘Auf sebagai ketua tim pelaksanaan pemilihan khalifah, pasca wafatnya Umar ibn Khattab, berkata kepada Usman ibn ‘Affan disuatu tempat sebagai berikut:
Jika saya tidak memba’yarmu (usman) maka siapa yang kau usulkan? Ia (usman) berkata “Ali”. Kemudian ia (Abd al-Rahman bin Auf) berkata kepada Ali, jika saya tidak memba’iatmu, maka siapa yang kau usulkan untuk dibai’at? Ali berkata, “Usman”. Kemudian Abd al-Rahman bin Auf bermusyawarah dengan tokoh-tokoh lainnya, ternyata mayoritas memilih Usman sebagai khalifah.
Memperhatikan percakapan dari dua sahabat tersebut, maka tampaklah bahwa sesungguhnya Usman dan Ali tidak ambisius menjadi khalifah, justru keduanya saling mempersilahkan untuk menentukan khalifah secara musyawarah.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf berkata kepada Ali sambil memegang tangannya,”engkau punya hubungan kerabat dengan Rosulullah dan sebagaimana diketahui, engkau lebih dulu masuk islam. Demi Allah jika aku memilihmu, engkau mesti berbuat adil. Dan jika aku memilih Usman, engkau mesti patuh dan taat.” Kemudian Ibn Auf menyampaikan hal yang sama kepada lima sahabat lainnya. Setelah itu ia berkata kepada Usman, “aku membaiatmu atas nama sunnah Allah dan Rosul-Nya, juga dua khalifah sesudahnya.” Usman berkata, ”baiklah.”.
Abdurrahman langsung membaiatnya saat itu juga diikuti oleh para sahabat dan kaum muslim. Orang kedua yang membaiat Usman adalah Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian kaum muslim bersepakat menerima Usman sebagai khalifah setelah Umar bin Khattab. Haris bin Mudhrab berkata,”aku berjanji pada masa Umar, kaum muslim itu tidak merasa ragu bahwa khalifah berikutnya adalah Usman.
Pembukuan Al-qur’an
Setelah kaum muslim bersepakat membaiat Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga setelah Abu Bakar al-shiddiq r.a. dan Umar bin Khattab r.a. ketika ditinggalkan oleh Umar bin Khattab, umat islam berada dalam keadaan yang makmur dan bahagia. Kawasan dunia muslimpun telah bertambah luas. Khalifah Umar berhasil menciptakan stabilitas sosial politik didalam negeri sehingga ia dapat membagi perhatiannya untuk memperluas wilayah islam. Dan ketika Usman menjabat sebagai khalifah, ia meneruskan sebagian besar garis politik Umar. Ia melakukan berbagai Ekspedisi untuk mendapatkan wilayah-wilayah baru. Perluasan itu memunculkan situasi sosial yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Banyak hal baru yang harus diantisipasi oleh penguasa muslim untuk menyatukan umat, yang terdiri atas berbagai suku dan bangsa. Salah satu hal yang muncul akibat perluasan wilayah islam adalah munculnya berbagai perbedaan qira’ah Al-qur’an. Itu karena setiap daerah memiliki dialeg bahasa tersendiri, dan setiap kelompok umat islam mengikuti qiroah para sahabat terkemuka. Sebagaimana diketahui ada beberapa orang sahabat yang menjadi kiblat atau rujukan bagi kaum muslim mengenai bacaan Al-qur’an.
Dimasa Rosulullah dan dua khalifah sebelumnya keadaan itu tidak menimbulkan permasalahan karena para sahabat bias mencari rujukan yang pasti mengenai bacaan yang benar dan diterima. Namun seiring perubahan zaman dan perbedaan latar belakang sosial budaya mayarakat islam, persoalan itu semakin meruncing dan berujung pada persoalan aqidah. Sebagian kelompok umat menyalahkan kelompok lain karena perbedaan gaya dan qiraah Al-qur’an. Bahkan mereka saling mendustkan, menyalahkan bahkan mengkafirkan.
Kenyataan itu mendorong usman untuk berijtihad melakukan sesuatu yang benar-benar baru. Pada akhir 24 H awal 25 H, Usman mengumpulkan para sahabat lalu empat orang diantara mereka menyusun mushaf yang akan menjadi rujukan umat islam. Keempat kodifikasi panitia itu adalah para penghafal al-Qur’an yang telah dikenal baik yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said ibn al-Ash dan Abdurrahman ibn al-Harist ibn Hisyam. Panitia kodifikasi itu bekerja sangat cermat dan hati-hati, mereka menghimpun berbagai qiraah yang ada ditengah umat kemudian memilih salah satunya yang dianggap paling dipercaya.
Mereka langsung menuliskan dalam satu mushaf lafal atau bacaan yang disepakati bersama. Yang tersusun rapi dan sistematis. Panitia kodifikasi Al-qur’an bekerja dengan cermat, teliti, dan hati-hati sehingga menghasilkan sebuah mushaf. Sebetulnya karya itu bukan murni dilakukan khalifah Usman, karena gagasan itu telah dirintis sejak kepemimpinan Abu Bakar dan diteruskan khalifah Umar. Mushaf usmani itupun tuntas disusun dan mushaf-mushaf lain yang berbeda dari mushaf utama itu diperintahkan untuk dibakar.
Masa Pemerintahan
Para pencatat sejarah membagi masa pemerintahan Utsman menjadi dua periode, yaitu pada periode kemajuan dan periode kemunduran sampai ia terbunuh. Periode I, pemerintahan Usman membawa kemajuan luar biasa berkat jasa panglima yang ahli dan berkualitas dimana peta islam sangat luas dan bendera islam berkibar dari perbatasan Aljazair (Barqah Tripoli, Syprus di front al-maghrib bahkan ada sumber menyatakan sampai ke Tunisia). Di al-maghrib, diutara sampai ke Aleppo dan sebagian Asia kecil, di Timur laut sampai ke Ma wara al-Nahar –Transoxiana, dan di Timur seluruh Persia bahkan sampai diperbatasan Balucistan (sekarang wilayah Pakistan), serta Kabul dan Ghazni. Selain itu ia juga berhasil membetuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh dan menghalau serangan-serangan di laut tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium dengan kemenangan pertama kali dilaut dalam sejarah islam.
Pada periode ke-II, kekuasaannya identik dengan kemunduran dengan kemunduran dengan huruhara dan kekacauan yang luar biasa sampai ia wafat. Sebagian ahli sejarah menilai bahwa Usman melakukan nepotisme. Ia mengangkat sanak saudaranya dalam jabatan-jabatan strategis yang paling besar dan paling banyak menyebabkan suku-suku dan kabila-kabila lainnya merasakan pahitnya tindakan Usman tersebut.
Para pejabat dan para panglima era Umar hampir semuanya dipecat oleh Usman, kemudian mengangkat dari keluarga sendiri yang tidak mampu dan tidak cakap sebagai pengganti mereka. Adapun para pejabat Usman yang berasal dari famili dan keluarga dekat, diantaranya Muawiyah bin Abi sofyan, Gubernur Syam, satu suku dan keluarga dekat Usman. Oleh karena itu, Usman diklaim bahwa ia telah melakukan KKN.
Namun pada kenyataannya bukan seperti apa yang telah dituduhkan kepada Usman, dengan berbagai alasan yang dapat dicatat atau digaris bawahi bahwa usman tidak melakukan nepotisme, diantaranya :
a. Para gubernur yang diangkat oleh Usman tidak semuanya family usman. Ada yang saudara atau anak asuh, ada yang saudara susuan, ada pula saudara tiri
b. Ia mengangkat familinya tentunya atas pertimbangan dari beberapa faktor yang melatarbelakanginya.
c. Meskipun sebagian pejabat diangkat dari kalangan family, namun mereka semuanya punya reputasi yang tinggi dan memiliki kemampuan. Hanya saja faktor ekonomi yang menyatukan untuk memprotes guna memperoleh hak mereka. Situasi ini dimanfaatkan oleh orang oportunis menyebarkan isu sebagai modal bahwa usman telah memberikan jabatan-jabatan penting dan strategis kepada famili, yang akhirnya menyebabkan khalifah usman terbunuh.
Melihat fakta-fakta tersebut diatas, jelas bahwa nepotisme Usman tidak terbukti. Karena pengangkatan saudara-saudaranya itu berangkat dari profesionalisme kinerja mereka dilapangan. Akan tetapi memang pada masa akhir kepemimpinan Usman para gubernur yang diangkat tersebut bertindak sewenang-wenang terutama dalam bidang ekonomi. Mereka diluar kontrol usman yang memang sudah berusia lanjut sehingga rakyat menganggap hal tersebut sebagai kegagalan usman, sampai pada akhirnya Usman mati terbunuh.
Kematian tokoh islam satu ini sebelumnya pernah disampaikan oleh Rasulullah. Ketika itu, Rasulullah bersama dengan Abu Bakr, Umar, dan Utsman di atas Uhud, tiba-tiba Uhud bergoncang. Rasul pun bersabda:
“Diamlah wahai Uhud, yang berada di atasmu adalah seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”
Tepat pada Jum’at 12 Dzulhijjah, 35 H, Beliau diberi 2 ulimatum oleh pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Namun Amirul Mukminin, Utsman bin ‘Affan tetap di atas wasiat Rasul untuk tidak melepaskan kekhilafahan, baju yang telah Allah pakaikan untuknya.
Ia pun terbunuh dalam keadaan shahid. Peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak selama 40 hari.
Nah sejarawan, begitu besar pengorbanan Utsman hingga darah penghabisan untuk memperjuangkan agama Allah. Semoga informasi ini menambah pengetahuan dan wawasan anda. Baca juga artikel Biografi Mochammad Idjon Djanbi untuk menambah pengetahuan anda. Terimakasih sudah membaca.

   sumber; http://www.tintabiografi.com/biografi-utsman-bin-affan-khulafaur-rasyidin-ke-3.bio


Biografi-Ali-bin-Abi-Thalib Biografi Ali bin Abi Thalib - Khulafaur Rasyidin ke-4 

Biografi Ali bin Abi Thalib – Khulafaur Rasyidin ke-4


   Biografi Ali bin Abi Thalib menjadi artikel yang patut anda baca. Dia merupakan khalifah terakhir dalam Kulafaur Rasyidin. Selain sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali merupakan sepupu nabi yang tumbuh besar bersama. Ingin tahu bagaimana kisah dari Ali Bin Abi Thalib. Yuk langsung aja baca artikel berikut ini.

Biografi Ali bin Abi Thalib

Ali lahir pada tanggal 13 Rajab di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab. Ia dilahirkan sekitar tahun 600 Masehi atau 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad SAW. Nama aslinya adalah Haydar bin Abu Thalib. Namun Nabi SAW lebih senang memangggilnya Ali yang artinya derajat yang tinggi di sisi Allah.

Saat Rasulullah mulai menyebarkan Islam, Ali masih berumur 10 tahun. Kepercayaannya terhadap Rasulullah membuatnya termasuk dalam golongan pertama yang masuk Islam atau disebut Ashabigunal Awalun. Semasa remaja, Ia menghabiskan hari-harinya bersama Rasulullah SAW untuk belajar.

Ia pun tumbuh dan berkembang menjadi pria yang cerdas, berani dan bijak. Jika Rasulullah merupakan gudang ilmu, maka Ali adalah kunci yang membuka ilmu yang tersimpan dari diri Rasulullah.

Saat kaum Quraisy ingin membunuh Rasulullah, Ali lah yang menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya. Sehingga kaum Quraisy yang ingin membunuh Nabi SAW, menjadi tertipu dan terpedaya.

Nabi SAW mempercayakan putri kesayangan nabi, Fatimah az-Zahra untuk dinikahi Ali. Keduanya menikah setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah.

Ali merupakan sahabat yang pemberani dalam medan perang. Dengan penuh keyakinan, Ia dan pedangnya yang diberi nama Dzulfikar berjasa membawa kemenangan dalam peperangan. Misalnya saja saat bertarung dalam perang, Perang Khandaq, dan Perang Khaibar.

Biografi Ali Bin Abi Thalib ini menceritakan bagaimana kisah pengangkatannya sebagai khalifah. Setelah meninggalnya Rasulullah, terjadi perdebatan tentang siapa yang akan memimpin umat Islam. Kaum Syiah percaya bahwa Ali seharusnya menjadi khalifah pertama yang seharusnya memimpin. Namun saat itu Ia masih berusia masih muda dibandingkan tiga khalifah lainnya. Akhirnya Abu Bakar yang diangkat menjadi khalifah pertama.

Setelah Umar Bin Khatab dan akhirnya Utsman Bin Affan sebagai khalifah terbunuh, maka keadaan politik Islam menjadi kacau. Atas dasar tersebut, Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah mendesak agar Ali segera menjadi khalifah. Ali kemudian dibaiat beramai-ramai, menjadikannya khalifah pertama yang dibaiat secara luas.

Namun kegentingan politik membuat Ali harus memikul tugas yang berat untuk menyelesaikannya. Perang saudara pertama dalam Islam, Perang Siffin pecah diikuti dengan merebaknya fitnah seputar kematian Utsman bin Affan membuat posisi Ali sebagai khalifah menjadi sulit.

Tokoh islam satu ini tutup usia saat beliau berumur 63 tahun atau bertepatan pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ia dibunuh oleh Abdrrahman bin Muljam, seorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang). Ia dibunuh saat menjadi imam pada shalat Subuh DI Masjid Kufah pada 19 Ramadhan, selang empat hari, Ali pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Jasad Ali di dirahasiakan keberadaanya Selanjutnya kursi kekhalifahan dipegang secara turun temurun oleh keluarga Bani Umayyah dengan khalifah pertama Muawiyah. Dengan demikian berakhirlah kekhalifahan Kulafaur Rasyidin.

Nah kawan, sudah tahukan bagaimana kisah hidup dari Ali Bin Abi Thalib. Ikuti terus kisah-kisah tokoh yang menginspirasi hanya di Tinta Biografi. Baca juga artikel Biografi Albert Einstein untuk menambah pengetahuan dan wawasan Anda. Terimakasih sudah membaca.

     sumber; http://www.tintabiografi.com/biografi-ali-bin-abi-thalib-khulafaur-rasyidin-ke-4.bio

Minggu, 15 Februari 2015

Biografi Singkat Abu Hurairah

Biografi Singkat Abu Hurairah

Abu Hurairah lahir pada tahun 21 sebelum Hijriyah. pada masa Jahiliyah, sebelum ia msuk Islam, namanya Abu Syamsi. ia Masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriyah, ketika perang Khaibar sedang berkecamuk. Abu hurairah langsung terjun ke dalam perang tersebut. setelah ia msuk Islam, Nabi SAW memberinya nama Abdurahman.
Abu Huraurah sangat menyenangi seekor kucing, sehingga sering kucing itu digendong, dirawat, diberi makan dan bagi kucing itu disediakan tempat khusus. maka beliau digelari pula dengan Abu Hurairah, yang artinya orang yang menyanyangi kucing. Nama lengkap Beliau adalah Abu Hurairah bin Shakhkhar. Ibunya adalah Maimunah, yang sempat masuk Islam sebelum wafatnya.
Abu Hurairah adalah seorang di antara Muhajirin yang miskin, Ia termasuk salah seorang Ahlush Shuffah, yaitu sahabat yang tinggal di Madinah. Beliau tidak punya rumah untuk tinggal, tidak punya tanah untuk bercocok tanam, tidak punya barang dagangan untuk dijual. walaupun demikian beliau tegar dalam menghadapi hudup dan sanggup menerima SAW seara baik bahkan beliau orang yang paling banyak menghafal dan meriwayatkan hadits-hadits.
Nabi SAW daripada sahabat-sahabat Nabi yang lain. Para Perawi hadits banyak meriwayatkan hadits dari beliau.
Iman Syafi’i pernah berkata: “Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak menghafal hadits bila dibandingi dengan perawi-perawi di masanya.”
Abu Hurairah adalah seorang ahli ibadah, begitu juga istri dan anaknya. Mereka semua biasa bangun pada malam hari secara bergiliran. Beliau bangun pada sepertiga malam kedua dan kemudian anaknay pada seprtiga malam terakhirnya.
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab beliau pernah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Beliau wafat pada tahun ke-59 Hijriyah dalam usia 78 tahun.
Wallahu A’lam
Biografi Singkat Abdulah Bin Mas’ud
Nama lengkapnya adalah Abdulah bin Mas’ud bin Ghafil bin Hamid al-Hadzaly, tetapi terkenal dengan Ibnu Mas’ud saja.
Beliau termasuk sahabat yang tertua dan utama orang keenam masuk Islam dan sangat dekat dengan Rasullulah SAW. Pada masa remaja beliau pernah bekerja sebagai pengembala kambing milik ‘Uqbah bin Mu’ith. Pada waktu itulah Nabi SAW. berkata kepadanya: “Engkau akan menjadi orang terpelajar.”
Beliau hidup miskin, tak punya harta benda, badanya kecil dan kurus, serta tidak berpangkat; kedudukan dan keduniannya jauh berada di bawah. Sebelum masuk Islam beliau sangat takut berjalan dihadapan pemimpin Quarisy. Tetapi setelah masuk Islam beliau sengaja tanpa rasa takut berjalan di hadapan pemuka-pemuka Quarisy Yang berada di samping Ka’bah, dan
Mengumandangkan wahyu Ilahi (ayat-ayat Al-Qur’an) di hadapan Mereka.
Kelebihan-kelebihan :
* Hafal Al-Qur’an 30 juz.
* Ahli mengenai arti dan makna Al-Qur’an.
* Luas Ilmunya tentang fiqh.
* Telah mendapat izin dari Rasulullah SAW untuk memasuki rumah beliau, siang ata upun malam.
* Kuat Ibadah dan penuh taqwa.
* Tidak suka memburu pangkat, mengejar kedudukan, serta memperbutkan kekuasaan dan kekayaanya.
* Merupakan orang pertama yang mengumandangkan ayat Al-Qur’an didepan masyarakat Mekkah.
Pada masa Khalifah Umar beliau diangkat menjadi Qadhi(hakim) dan ketua Bait Al-Maal(bagian perbendaharaan kaum muslimin) di kufah. banyak merwayatkan hadits dalam kitab hadits Bukhari dan Muslimin serta kitab-kitab lainya. Beliau wafat di Madinah pada tahun 32 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi.
Demikian riwayat hidup Ibnu Mas’ud, seorang yang berperawakan kurus, kecil, anak miskin terlunta-lunta, (yang semula) tak punya pengaruh dan kedudukan. tapi Allah melebihkan beliau menjadikannya sahabat Nabi yang utama, sebagai as-Saabiquun al-Awwaliin (orang terdahulu beriman), dan penerima kabar gembira berupa jaminan surga yang penuh kenikmatan.
Wallahu A’lam

  sumber ; https://septianreyes.wordpress.com/tokoh-agama/biografi-singkat-abu-hurairah/

Hamzah Bin Abdul Muththalib - Singa Allah

Artikel "Hamzah Bin Abdul Muththalib - Singa Allahadalah bagian dari seri "Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW"
kaligrafi arab yang bermakna Hamzah Bin Abdul Muththalib
Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim adalah seorang paman Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wassalam dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian, Ia Ikut Hijrah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalamdan ikut dalam perang Badar, dan meninggal pada saat perang Uhud, Rasulullahmenjulukinya dengan “Asadullah” (Singa Allah) dan menamainya sebagai “Sayidus Syuhada”.


Kelahiran

Kelahiran Hamzah diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad. Ia merupakan anak dari Abdul-Muththalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, pernikahan Abdul-Muththalib dan Abdullah bin Abdul-Muththalib terjadi bersamaan waktunya, dan ibu dari Nabi Muhammad, Aminah binti Wahab, adalah saudara sepupu dari Haulah binti Wuhaib.

Hamzah bin `Abdul Muththalib bin Hâsyim bin Abdu Manâf al-Qurasyi al- Hâsyimi Abu Ammârah Radhiyallahu anhu dan nabi Muhammad SAW disusui oleh Tsuwaibah, bekas budak Abu Lahab. Nabi  Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hamzah bin `Abdul Mutthalib Radhiyallahu anhu adalah  saudara sepersusuanku [HR. Muslim]

Dari Atha` bin Jâbir Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penghulu para syuhada` pada hari kiamat adalah Hamzah bin `Abdul  Muththalib”. [al-Hâkim dalam Al-Mustadrak 2/130, 3/219]

Sa`d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu mengatakan:
“Dahulu Hamzah bin `Abdul Muththalib Radhiyallahu anhu ikut serta dalam perang Uhud; dan di depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia mengatakan: “Aku adalah singa Allah Azza wa Jalla ”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda: “Demi dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya Hamzah bin `Abdul Muththalib telah ditulis di langit ke tujuh bahwa dia adalah singa Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya”

Kisah-Kisah Keberanian Hamzah Dalam Berperang.

Tatkala Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasul-Nya untuk  berperang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mengutus para pasukan perang ke berbagai wilayah dengan tujuan tertentu. Ketika itu, panji pertama yang dibuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk Hamzah bin `Abdul Mutthalib Radhiyallahu anhu. Beliau mengutusnya bersama 30 Muhâjirin, untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Rombongan dagang itu datang dari Syam, dipimpin oleh Abu Jahal bin Hisyâm dengan 300 orang Quraisy. Sampailah Hamzah dan orang-orang yang bersamanya di Saiful Bahr dari arah al-Ish. Dia bertemu dengan Abu Jahal dan para pengikutnya, dan kemudian kedua kelompok itu memilih berperang dan menghunus pedang-pedang mereka, kecuali Majdi bin Umar al-Juhani yang mempunyai hubungan erat dengan 2 kelompok itu. Ia berjalan di antara dua kelompok itu dan memisahkan mereka, sehingga perang pun tidak terjadi.

Dalam perang Badar al-Kubra, Hamzah adalah pejuang terdepan dalam mubârazah (perang tanding atau duel). Ali Radhiyallahu anhu berkata : “ Utbah bin rabî`ah maju, kemudian diikuti oleh anak laki-laki dan saudaranya. Ia berseru : “Siapa yang akan maju tanding?” kemudian beberapa pemuda Anshâr pun meladeninya. Utbah bertanya : “Siapa kalian?” Mereka pun memberitahukan diri mereka. Lalu Utbah berkata : “Kami tidak ada urusan dengan kalian, yang kami butuhkan hanyalah kaum kami.” 

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :
“ Berdirilah wahai Hamzah, berdirilah wahai Ali, berdirilah wahai Ubadah bin al-Harits.” Kemudian Hamzah mendatangi Utbah, aku (Ali) mendatangi Syaibah, sedangkan Ubadah dan al-Walîd saling memukul 2 pukulan. Setelah kami (Ali dan Hamzah) mengalahkan musuh, lalu kami menuju al- Walîd dan membunuhnya. Kami membawa Ubâdah kembali ke pasukan kaum Muslimin.” Kisah ini menjelaskan bahwa Hamzah bin `Abdul Mutthalib ikut berduel dalam perang Badar.

Kedua kelompok yang berduel itu adalah pasukan Allah Azza wa Jalla dan pasukan setan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ
Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai rabb mereka. [al-Hajj/22:19]

Abu Dzar Radhiyallahu anhu bersumpah bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan orang-orang yang berduel dalam perang Badar, yaitu Hamzah, Ali, Ubaidah bin al-Harits, Utbah bin rabî`ah, Syaibah bin rabî`ah dan al-Wâlid bin Utbah.

Ali Radhiyallahu anhu berkata bahwa ayat di atas turun tentang orang-orang yang berduel pada saat perang Badar.

Kesaksian Sahabat

Abdurrahmân bin `Auf (salah seorang Sahabat yang dijamin masuk surga) memberikan syahâdah (persaksian) bahwa Hamzah lebih baik daripada dirinya. `Abdurrahmân bin Auf juga mengatakan: “Hamzah telah terbunuh, padahal dia adalah orang yang lebih baik dariku, kemudian dunia dilapangkan bagi kami, atau mengatakan kami mendapatkan kesenangan dunia. Sungguh, kami takut kebaikan-kebaikan kami diberikan (di dunia-pent).”  Kemudian dia menangis dan meninggalkan makanan itu.” [hlm 186, nukilan dari al-Bukhâri no. 1275]


Kisah Pembunuhan Hamzah Radhiyallahu Anhu

Ibnu Atsir berkata dalam kitab ‘Usud al Ghabah”, Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy, sampai pada suatu saat beliau tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya.

Terbunuhnya Hamzah oleh Wahsyi berawal dari kekalahan kaum kafir Quraisy di perang Badar pada tahun ke 2 H. Perasaan dendam seorang wanita isteri pembesar Quraisy, Abu Sufyan, yaitu Hindun. Banyak saudaranya yang terbunuh di medan Badar. Ia pun berusaha membalas sakit hatinya terhadap saudara-saudaranya yang tewas dalam perang tersebut. Maka ia pun berusaha untuk membunuh Hamzah ra. dengan menyewa seorang pembunuh bayaran, bernama Wahsyi bin Harb, dengan dijanjikan imbalan yang besar yaitu akan dimerdekakan dari perbudakan.

Kemudian Wahsyi merencanakan pembunuhan terhadap Hamzah pada saat terjadi peperangan Uhud. Dalam perang itu Wahsyi mencari celah dan kesempatan yang baik untuk membunuh Hamzah.

Di tengah tengah Perang Uhud, Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba' bin Abdul Uzza dengan lihai-nya. Maka pada saat itu pula, Wahsyimengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya.

Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya ,” Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs; an Nahl 126)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq didalam kitab,” Sirah Ibnu Ishaq” dari Abdurahman bin Auf bahwa Ummayyah bin Khalaf berkata kepadanya “ Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?”, aku menjawab “Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib”. Lalu Umayyah dberkata Dialah yang membuat kekalahan kepada kami”.

Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang disamping Rasulullah dengan memegang 2 bilah pedang. Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menagis. Ia wafat pada tahun 3 H, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dengan “Sayidus Syuhada”.


Ayat Yang Turun Tentang Hamzah Radhiyallahu Anhu 

Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ
يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla mati, bahkan mereka hidup, di sisi Allah Azza wa Jalla mereka diberi rezeki [Ali Imrân/3:169]

Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Hamzah Radhiyallahu anhu dan para Sahabatnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tatkala teman-teman kalian dalam perang Uhud meninggal dunia, Allah Azza wa Jalla menjadikan ruh-ruh mereka di tenggorokan burung hijau yang ada di sungai-sungai surga, mereka makan biji-bijinya dan kembali ke pelita-pelita dari emas yang tergantung di Arsy. Ketika mereka memperoleh kesenangan dalam makan, minum dan tidur, mereka berkata : “ Siapa yang hendak menyusul kami. Kami hidup di surga dengan kenikmatan. Hendaknya mereka jangan meninggalkan jihad dan tidak mundur dalam perang.” Allah Azza wa Jalla berfirman : “Aku lebih tahu tentang mereka daripada kalian”, kemudian berfirman : “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla mati, bahkan mereka hidup, di sisi Allah Azza wa Jalla mereka diberi rezeki””

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyayangi dan merasa iba kepada Hamzah Radhiyallahu anhu tatkala melihat perbuatan orang-orang kafir kepadanya. Anas Radhiyallahu anhu mengatakan, “Pada saat Uhud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan jasad Hamzah Radhiyallahu anhu yang luka parah. Beliau bersabda : “Seandainya saja Shafiyah tidak menemukan jasadnya, pasti dia akan meninggalkannya hingga Allah Azza wa Jalla mengumpulkannya di perut binatang buas atau burung” 

  sumber ; http://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/06/hamzah-bin-abdul-muththalib-singa-allah.html

BIOGRAFI ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB RA

BIOGRAFI ABBAS BIN ABDUL MUTHALIB RA



Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, "Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku."
Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai'at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah al-Haram.

Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pemah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas ditemukan, maka iapun menepati nazamya itu

Istrinya terkenal dengan panggilan Ummul Fadhal (ibu Fadhal) karena anak sulungnya bemama al-Fadhal. Wajahnya tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan haji wada'-nya. Ia meninggal dunia di Syam karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut ; yaitu anak kedua, Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, meninggal di Thaif. Ketiga, Qutsam, wajahnya mirip benar dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Ia pergi berjihad ke negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Keempat, Ma'bad, mati syahid di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya,dan murah hati meninggal dunia di Madinah. Kelima, Puterinya, Ummu Habibah, tidak banyak dibicarakan oleh sejarah.

Para ahli sejarah berbeda keterangan tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Katamya, ia memberitakan kegiatan kaum musyrikin kepada Nabi di Madinah, dan kaum muslimin yang ada di Mekkah banyak mendapat dukungan dari beliau. Kabamya, ia pemah menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Madinah, tapi Rasulullah menyatakan, "Kau lebih baik tinggal di Mekah ".
Keterangan kedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi', pembantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya."

Ia selalu menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di Ka'bah. Ka'ab bin Malik mengutarakan, "Kami (saya dan al-Barra' bin Ma'rur) mencari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah sebelumnya. Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami bisa menemui Rasulullah. Ia balik bertanya, 'Apakah kalian berdua mengenalnya?' Kami menjawab, 'Tidak!'. Ia lalu bertanya, 'Kalian mengenal Abbas bin Abdul Muththalib, pamannya?'
Kami menjawab, 'Ya!' Memang kami sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan.
Orang tadi lalu berkata, 'Kalau kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang yang kalian cari!".

Kemudian, kami masuk ke Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas duduk di sana dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di sebelahnya".
Abbas radhiallahu 'anhu mempunyai peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam baiat al-Aqabah. Ia orang pertama yang berpidato dalam majelis itu. Ia berkata

"Wahai kaum Khazraj, (pada masa itu, suku al-Aus dan al-Khazraj dipanggil dengan al-Khazraj saja) kalian seperti yang saya ketahui telah mengundang datang Muhammad. Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah familinya. Ia dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan, dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerang kalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik terlebih dahulu, rembukkanlah antara kalian dengan mufakat dan sepakat bulat dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang jujur."

Kata-kata itu menunjukkan pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan. Ia ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka. Ia lalu berkata lagi, "Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana kalian berperang menghadapi musuh?".

Abdullah bin Amru bin Haram bangkit memberikan jawaban, "Percayalah bahwa kami adalah ahli perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kami dan berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah kami sampai habis, lalu kami mainkan tombak kami sampai patah, kemudian kami menyerang dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami".

Cerahlah wajah Abbas mendengarkan keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu, seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata lagi, "Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju besi?".
"Ya, lengkap," jawab mereka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengukuhkan baiat itu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Mekah, mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam, tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak. Rasulullah bersabda, "Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbduI Muththalib, paman Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam., janganlah di bunuh karena ia keluar berperang karena terpaksa".

Keterangan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah, yang berucap dengan lantang, "Kami membunuh bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu kami akan membiarkan Abbas? Demi Allah, kalau aku menjumpainya, aku akan memancungnya dengan pedangku ini!"

Kata-katanya itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam., lalu beliau berkata kepada Umar ibnul Khattab, "Ya Aba Hafsah, ada juga orang yang mau menghantam wajah paman Rasullullah dengan pedangnya!"

"Biarkanlah, ya Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi Allah, dia itu seorang munafik," ucap Umar.

Akan tetapi, Rasulullah tidak membiarkan Umar bertindak membunuh kawan-kawanya yang bersalah. Beliau membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternayta, Abu hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang perkataanya, "Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang pernah kaku ucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!" Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia tewas sebagai syahid dalam Perang Yamamah.

   sumber; http://abalhafiz.blogspot.com/2013/07/biografi-abbas-bin-abdul-muthalib-ra_5.html